Selasa, 22 Desember 2009

Akhir dari Sebuah Keputusasaan

Setiap manusia memiliki masalah dalam hidupnya. Namun, permasalahan dapat disikapi dengan hati yang lapang dan ikhlas dalam menyelesaikannya. Berbeda jika seseorang telah berada disebuah keputusaasaan yang akhirnya akan mengambil jalan pintas untuk menyelesaikannya yaitu dengan jalan bunuh diri. Hal inilah yang saat ini menjadi fenomena yang sangat memprihatinkan di Indonesia.

Banyak cara yang dilakukan bagi mereka untuk melakukan bunuh diri. Minum racun serangga, memotong urat nadi atau bahkan terjun dari gedung-gedung tinggi misalnya. Padahal kalau dipikir secara nalar, bunuh diri bukanlah suatu peyelesaian dari suatu masalah karena justru menjadi penambahan masalah khususnya bagi keluarga yang ditinggalkan serta banyak diantara mereka yang mencoba melakukan bunuh diri yang bukan membuat dirinya meninggal namun harus menderita di Rumah sakit bahkan sampai tidak berfungsinya alat-alat tubuh (lumpuh).

Alasan yang membuat seseorang berpikir untuk mengakhiri hidup akan masalah-masalahnya sangatlah beragam. Ketidakmampuan dalam ekonomi justru alasan yang paling banyak untuk seseorang melakukan percobaan bunuh diri. Ini menjadi sebuah tanda tanya besar, apakah perekonomian Indonesia menjadi meningkat tetapi tidak dapat diimbangi dengan pendapatan yang diterima oleh rakyat sehingga mereka menjadi rakyat miskin??

Untuk menyikapi hal tersebut, hendaklah pemerintah juga memperhatikan hal diatas walau terlihat seperti hal sepele, karena dari hal sepele itulah permasalahan yang besar akan muncul selain itu, dukungan dari orang-orang sekitarpun sangat penting dan berguna untuk dapat memahami dan mengerti masalah-masalah yang sedang dihadapi salah satu keluarganya.


Contoh kasus dari bunuh diri akibat permasalahan ekonomi rumah tangga :

Sudadi (41 tahun), warga Desa Windusari, Kab Banjarnegara, Jawa Tengah. Akhir Januari 2008 lalu, Sudadi nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di bawah plafon rumahnya. Nyawa ayah satu anak ini pun tak terselamatkan.

Korban yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan ini memang acap kali mengeluh. Kepada tetangganya, Sudadi sering curhat lantaran penghasilannya tak mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Tak hanya Sudadi yang mengambil jalan pintas seperti itu. Slamet (34), penarik becak di Banjarnegara, pada akhir Maret lalu juga mengakhiri hidupnya dengan cara serupa. Impitan ekonomi merupakan penyebab Slamet melakukan hal terlarang dalam agama tersebut.

Terus melangitnya harga-harga kebutuhan pokok dan di saat yang sama penghasilan Slamet sebagai penarik becak tak ikut naik, membuatnya gamang menjalani hidup. Apalagi, jumlah penarik becak makin bertambah karena nasib serupa Slamet tak hanya seorang. ''Padahal, saya tidak pernah menuntut apa-apa dari suami. Sudah dapat uang buat makan sehari-hari saja sudah senang,'' kata istri korban sembari menangisi kepergian suaminya.


Sumber contoh kasus :

http://najib23.multiply.com

2 komentar:

Anonim mengatakan...

each person must have been desperate.
disitulah letak atau besarnya nilai kesuksesan seseorang,
will he be able to process up properly or stop silent place ..

escape from a problem with suicide will never solve the problem, now we continue to do giii??

tya mengatakan...

apakah g da cara lain? selain mengambil keputusan seperti itu?