Menurut Kamus Bahasa Indonesia, Sopan berarti tertib pada aturan sedangkan Santun berarti lemah lembut penuh rasa kasihan. Jadi, sopan santun berarti tertib pada aturan disertai dengan perasaan kasihan dan lemah lembut. Menurut saya, sopan santun merupakan suatu adab tingkah laku yang berkaitan dengan aturan yang ada disekeliling individu dengan cara menghargai dan menghormati. Sopan santun selalu berkaitan dengan sikap dan perbuatan yang kita lakukan. Sopan santun juga merupakan suatu landasan apakah seseorang memiliki tingkah laku yang baik atau tidak. Misalnya saja, saat kita menerima sesuatu dari orang lain, dengan tangan mana kita menerimanya?? Jika kita menerima Sesuatu itu dengan tangan kanan berarti kita memiliki sopan santun yang baik begitu juga sebaliknya, karena saat kita menerima dengan tangan kanan berarti kita juga menghargai orang yang telah memberi.
Contoh lainnya yaitu :
Anak dengan Orang Tua
Saat akan keluar rumah, anak akan izin kepada orangtuanya (ibu / bapak) dengan cara baik-baik. Cium tangan kedua orangtua atau dengan sekedar izin kata-kata, ex: “bu,pak ..saya berangkat dulu ..”
Dengan Saudara yang lebih Tua
Saat berbicara menggunakan kata-kata yang sesuai, memakai bahasa panggilan yang pas, misalnya “mba, mas, kakak, atau lainnya.”
Individu dengan Masyarakat
Saat berjalan melewati jalan atau gang yang terdapat kerumunan warga sedang asyik mengobrol, berusaha mengucapkan “permisi” atau kalau malu cukup senyum saja.
Konsep diri mulai terbentuk dari masa balita ketika potongan-potongan pengalaman membentuk kepribadiannya dan menjadi semakin mawas diri akan identitas dirinya, begitu bayi mulai belajar apa yang terasa baik atau buruk, apa ia merasa nyaman atau tidak. Jika struktur diri itu sudah terbentuk maka aktualisasi diri mulai terbentuk. Aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan sang diri sebagaimana yang dirasakan dalam kesadaran sehingga kcenderungan aktualisasi tersebut mengacu kepada pengalaman organik individual, sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh, akan kesadaran dan ketidaksadaran, psikis serta kognitif.
Diri dibagi atas 2 subsistem, yaitu:
vKosep diri, yaitu penggabungan seluruh aspek keberadaan dan pengalaman seseorang yang disadari oleh individual (meski tidak terlalu akurat).
vDiri ideal, yaitu cita-cita seseorang akan diri. Terjadinya kesenjangan antara akan menyebabkan ketidakseimbangan dari kepribadian menjadi tidak sehat mempengaruhi self.
Penerimaan Positif (Positive Regard)
Cara-cara khusus bagaimana diri itu berkembang apakah dia kan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kecil. Pada waktu diri itu mulai berkembang, anak itu juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini “Penghargaan Positif” (Positive Regard).
Orang akan merasa puas menerima regard positif, kemudian juga merasa puas dapat memberi regard positif kepada orang lain. Regard positif, suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes, dimilki semua manusia ; setiap anak terdorong untuk mencari Positif Regard. Akan tetapi, tidak setiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau dia menrima kasih saying, cinta, dan persetujuan dari orang – orang lain, tetapi dai kecewa kalau dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih saying. Apakah anak itu kemudian akan tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh manakah kebutuhan akan Positive Regard ini dipuaskan dengan baik
Kepribadian yang sehat menurut Carl Rogers adalah kepribadian bukan merupakan kesadaran dari ada, melainkan melalui suatu proses, suatu arah bukan suatu tujuan. Aktualisasi – diri berlangsung terus ;tidak pernah merupakan suatu kondisi yang selesai atau statis. Tujjuan ini, yakni orientasi ke masa depan, menarik individu ke depan, yang selanjutnya mendiferensiasikan dan mengembangkan segala segi dari diri. Kemudian, Rogers memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya.
·Keterbukaan Pada Pengalaman
Keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap defensif. Setiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan dari luar disampaikan ke sistem syaraf organisme tanpa ditrosi atau rintangan. Seseorang yang seperti itu mengetahui segala sesuatu tentang kodratnya ; tidak ada segi kepribadian tertutup. Itu berarti bahwa kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru. Sebaliknya, kepribadian orang yang defensif, yang beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, bersembunyi di belakang peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui pengalaman-pengalaman tertentu.
Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih “emosional” dalam pengertian bahwa dia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif.
·Kehidupan Eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan. Setiap pengalaman dirasa segar dan baru, seperti sebelumnya belum pernah ada dalam cara yang persis sama. Maka dari itu, ada kegembiraan karena setiap pengalaman tersingkap. Karena orang yang sehat terbuka kepada semua pengalaman, maka diri atau kepribadian terus-menerus dipengaruhi atau disegarkan oleh setiap pengalaman.
Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat menyesuaikan diri karena struktur-diri terus-menerus terbuka kepada pengalaman-pengalaman baru. Kepribadian yang demikian itu tidak kaku atau tidak dapat diramalkan. Rogers percaya bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu yang terjadi pada momen itu dan dia menemukan dalam setiap pengalaman momen yang berikutnya.
·Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri
Bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman yang sangat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih dapat diandalkan daripada faktor-faktor rasional atau intelektual. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls-impuls yang timbul seketika dan intuitif. Dalam tingkah laku yang demikian itu terdapat banyak spontanitas dan kebebasan, tetapi tidak sama dengan bertindak terburu-buru atau sama sekali tidak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya
Orang yang sehat sepenuhnya pada pengalaman, maka dia memiliki jalan masuk untuk seluruh informasi yang ada dalam suatu situasi membuat keputusan. Informasi ini berisi kebutuhan-kebutuhan orang itu, tuntutan-tuntutan sosial yang relevan, ingatan-ingatan terhadap situasi-situasi yang serupa pada masa lampau dan persepsi terhadap situasi sekarang, karena terbuka kepada semua pengalaman serta menghidupkan pengalaman-pengalaman sepenuhnya, maka individu yang sehat dapat membiarkan seluruh organisme mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi. Semua faktor yang relevan diperhitungkan dan dipertimbangkan serta dicapai keputusan yang akan memuaskan semua segi situasi dengan sangat baik.
Rogers membandingkan kepribadian yang sehat dengan sebuah komputer elektronik dimana semua data yang relevan telah diprogramkan kedalamnya. Komputer itu mempertimbangkan semua segi masalah, semua pilihan dan pengaruh-pengaruhnya, dan dengan cepat menentukan tindakan.
·Perasaan Bebas
Rogers percaya bahwa semakin sehat seseorang secara psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang berfungsi sepenuhnya memilk\iki perasaan berkuasa secara pribadi menganai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristiwa masa lampau, karena merasa bebas dan berkuasa ini maka orang yang sehat melihat sangat banyak pilihan dalam kehidupan dan merasa mampu melakukan apa saja yang mungkin ingin dilakukannya.
·Kreativitas
Semua orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Mengingat sifat-sifat lain yang mereka miliki sukar untuk melihat bagaimana seandainya kalau mereka tidak demikian. Oarng-orang yang terbuka sepenuhnya kepada semua pengalaman, yang percaya akan organisme mereka sendiri – sebagaimana dikemukakan Rogers – yang akan mengungkapkan diri mereka dalam produk-produk yang kreatif dan kehidupan yang kreatif dalam semua bidang kehidupan mereka. Mereka bertingkah laku spontan, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam sekitar mereka.
Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformalitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan sosial dan kultural. Mereka kurang bersikap defensif, maka mereka tidak menghiraukan kemungkinan tingkah laku mereka diterima dengan baik oleh orang-orang lain. Akan tetapi, mereka dapat dan kerapkali benar-benar menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari situasi khusus apabila konformitas yang demikian itu akan membantu memuaskan kebutuhan mereka dan memungkinkan mereka mengembangkan diri mereka sampai ke tingkat yang paling penuh.
Rogers percaya bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastic dalam kondisi-kondisi lingkungan. Mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk menggulangi perubahan-perubahan traumatis sekalipun, seperti dalam pertempuran atau bencana-bencana alamiah. Jadi, Rogers melihat orang-orang yang berfungsi sepenuhnya merupakan “barisan depan yang layak” dalam proses evolusi manusia.
Saat ini teori-teori Allport (tentang kepribadian yang sehat) tetap relevan. Berikut adalah tujuh kriteria dari Allport tentang sifat-sifat khusus kepribadian yang sehat:
1.Perluasan Perasaan Diri, ketika seseorang menjadi matang, ia mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri. Tidak cukup sekadar berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri. Lebih dari itu, ia harus memiliki partisipasi yang langsung dan penuh, yang oleh Allport disebut "partisipasi otentik". Dalam pandangan Allport, aktivitas yang dilakukan harus cocok dan penting, atau sungguh berarti bagi orang tersebut. Jika menurut kita pekerjaan itu penting, mengerjakan pekerjaan itu sebaik-baiknya akan membuat kita merasa enak, dan berarti kita menjadi partisipan otentik dalam pekerjaan itu. Hal ini akan memberikan kepuasan bagi diri kita. Orang yang semakin terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas, orang, atau ide, ia lebih sehat secara psikologis. Hal ini berlaku bukan hanya untuk pekerjaan, melainkan juga hubungan dengan keluarga dan teman, kegemaran, dan keanggotaan dalam politik, agama, dan sebagainya.
2.Relasi Sosial yang Hangat, Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain, yaitu kapasitas untuk mengembangkan keintiman dan untuk merasa terharu. Orang yang sehat secara psikologis mampu mengembangkan relasi intim dengan orangtua, anak, pasangan, dan sahabat. Ini merupakan hasil dari perasaan perluasan diri dan perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik. Ada perbedaan hubungan cinta antara orang yang neurotis (tidak matang) dan yang berkepribadian sehat (matang). Orang-orang neurotis harus menerima cinta lebih banyak daripada yang mampu diberikannya kepada orang lain. Bila mereka memberikan cinta, itu diberikan dengan syarat-syarat. Padahal, cinta dari orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat.
Jenis kehangatan yang lain, yaitu perasaan terharu, merupakan hasil pemahaman terhadap kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan, penderitaan, ketakutan, dan kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia. Hasil dari empati semacam ini adalah kesabaran terhadap tingkah laku orang lain dan tidak cenderung mengadili atau menghukum. Orang sehat dapat menerima kelemahan manusia, dan mengetahui dirinya juga memiliki kelemahan. Sebaliknya, orang neurotis tidak mampu bersabar dan memahami sifat universal pengalaman-pengalaman dasar manusia.
3.Keamanan Emosional, Kualitas utama manusia sehat adalah penerimaan diri. Mereka menerima semua segi keberadaan mereka, termasuk kelemahan-kelemahan, dengan tidak menyerah secara pasif terhadap kelemahan tersebut. Selain itu, kepribadian yang sehat tidak tertawan oleh emosi-emosi mereka, dan tidak berusaha bersembunyi dari emosi-emosi itu. Mereka dapat mengendalikan emosi, sehingga tidak mengganggu hubungan antarpribadi. Pengendaliannya tidak dengan cara ditekan, tetapi diarahkan ke dalam saluran yang lebih konstruktif.
Kualitas lain dari kepribadian sehat adalah "sabar terhadap kekecewaan". Hal ini menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan hambatan atas berbagai keinginan atau kehendak. Mereka mampu memikirkan cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Orang-orang yang sehat tidak bebas dari perasaan tak aman dan ketakutan. Namun, mereka tidak terlalu merasa terancam dan dapat menanggulangi perasaan tersebut secara lebih baik daripada kaum neurotis.
4.Persepsi Realistis, Orang-orang sehat memandang dunia secara objektif. Sebaliknya, orang-orang neurotis kerapkali memahami realitas disesuaikan dengan keinginan, kebutuhan, dan ketakutan mereka sendiri. Orang sehat tidak meyakini bahwa orang lain atau situasi yang dihadapi itu jahat atau baik menurut prasangka pribadi. Mereka memahami realitas sebagaimana adanya.
5.Keterampilan dan Tugas, Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri di dalam pekerjaan tersebut. Kita perlu memiliki keterampilan yang relevan dengan pekerjaan kita, dan lebih dari itu harus menggunakan keterampilan itu secara ikhlas dan penuh antusiasme. Komitmen pada orang sehat atau matang begitu kuat, sehingga sanggup menenggelamkan semua pertahanan ego. Dedikasi terhadap pekerjaan berhubungan dengan rasa tanggung jawab dan kelangsungan hidup yang positif. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis tanpa melakukan pekerjaan penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan keterampilan.
6.Pemahaman Diri, Memahami diri sendiri merupakan suatu tugas yang sulit. Ini memerlukan usaha memahami diri sendiri sepanjang kehidupan secara objektif. Untuk mencapai pemahaman diri yang memadai dituntut pemahaman tentang dirinya menurut keadaan sesungguhnya. Jika gambaran diri yang dipahami semakin dekat dengan keadaan sesungguhnya, individu tersebut semakin matang. Demikian juga apa yang dipikirkan seseorang tentang dirinya, bila semakin dekat (sama) dengan yang dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya, berarti ia semakin matang. Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan gambaran diri yang objektif. Orang yang memiliki objektivitas teradap diri tak mungkin memproyeksikan kualitas pribadinya kepada orang lain (seolah orang lain negatif). Ia dapat menilai orang lain dengan seksama, dan biasanya ia diterima dengan baik oleh orang lain. Ia juga mampu menertawakan diri sendiri melalui humor yang sehat.
7.Filsafat Hidup, Orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan dan rencana jangka panjang. Ia memiliki perasaan akan tujuan, perasaan akan tugas untuk bekerja sampai tuntas sebagai batu sendi kehidupannya. Allport menyebut dorongan-dorongan tersebut sebagai keteraraha (directness).
Keterarahan itu membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu atau serangkaian tujuan, serta memberikan alasan untuk hidup. Kita membutuhkan tarikan yang tetap dari tujuan yang bermakna. Tanpa itu mungkin kita mengalami masalah kepribadian.
Kerangka dari tujuan-tujuan itu adalah nilai, yang bersama dengan tujuan sangat penting dalam rangka mengembangkan filsafat hidup. Memiliki nilai-nilai yang kuat merupakan salah satu ciri orang matang. Orang-orang neurotis tidak memiliki nilai atau memiliki nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara, yang tidak cukup kuat untuk mempersatukan semua segi kehidupan.
Suara hati berperan dalam menentukan filsafat hidup. Allport mengemukakan perbedaan antara suara hati yang matang dengan suara hati tidak matang. Yang tidak matang, suara hatinya seperti pada kanak-kanak: patuh dan membudak, penuh larangan dan batasan, bercirikan perasaan "harus". Orang yang tidak matang berkata, "Saya harus bertingkah laku begini." Sebaliknya, orang yang matang berkata, "Saya sebaiknya bertingkah laku begini." Suara hati yang matang adalah perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau etis.
Sumber Referensi:
M.M. Nilam Widyarini, MSi, dalam jurnal http://www.kompas.com/read/xml/2008/01/10/20084435/kepribadian.yang.matang
Allport, psikolog As merasa bahwa fungsi oportunistik relative tidak penting untuk memahami sebagian besar perilaku manusia. Ia percaya, sebagian besar perilaku manusia yaitu dimotivasi dari sesuatu hal yang berbeda – berfungsi dengan cara yang ekspresif dari diri -yang kemudian Allport sebut sebagai Propriate Berfungsi. Sebagian besar apa yang kita laukan dalam hidup adalah masalah menjadi siapa diri kita. Propriate berfungsi dapat dicirikan sebagai proaktif, berorientasi pada masa depan, dan psikologis.
Propriate berasal dari kata Proprium, yang Allport namakan untuk konsep diri sendiri. Pengambilan penekanan pada diri atau proprium begitu banyak, kemudian Ia ingin mendefinisikan hal itu secermat mungkin. Ia melakukan pendekatan dari dua arha, yaitu fenomenologis dan fungsional. Definisi fenomenologis, yaitu seperti yang dialami diri sendiri: Ia menyarankan bahwa diri terdiri dari aspek dari apa yang dilihat sebagai yang paling penting (sebagai lawan dari kebetulan atau disengaja), hangat (atau "berharga," sebagai lawan dari emosional ), dan pusat (sebagai lawan perifer). Sedangkan, Definisi fungsionlnya menjadi teori perkembangan dengan sendirinya. Diri memiliki tujuh fungsi, yang cenderung muncul pada waktu-waktu tertentu dalam kehidupan seseorang:
1.Sense of body - Rasa tubuh berkembang dalam dua tahun pertama kehidupan. Kita merasakan kedekatan, dan kehangatan. Ini memiliki batas-batas antara yang sakit dan cedera, sentuhan dan gerakan, yang kemudian membuat kita sadar.
2.Self identity - Identitas diri juga berkembang dalam dua tahun pertama. Kita Akan tiba pada titik itu yaitu mengenali diri kita lebih lanjut, saat masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kita melihat diri kita sebagai entitas individu, terpisah dan berbeda dari orang lain.
3.Self-esteem - Self-esteem berkembang antara dua dan empat tahun. Ada juga saatnya ketika kita mengakui bahwa kita mempunyai nilai, untuk orang lain dan kepada diri kita sendiri. Hal ini terutama terkait dengan pembangunan berkelanjutan kompetensi yang ada pada kita.
4.Self-extension - Self-ekstensi berkembang antara empat dan enam tahun . Beberapa hal, orang, dan peristiwa di sekitar kita yang datang dianggap sebagai pusat dan hangat, sangat penting bagi keberadaan saya. Beberapa orang mendefinisikan diri mereka dalam hal orangtua mereka, pasangan, atau anak-anak, geng, komunitas, perguruan tinggi, atau bangsa. Beberapa orang menemukan identitas mereka dalam kegiatan-kegiatan:
5.Self-image - Citra diri juga berkembang antara empat dan enam tahun. Ini adalah "cermin diri," saya seperti orang lain yang saya lihat . Ini adalah kesan saya buat pada orang lain, saya "lihat," saya harga diri atau status sosial, termasuk seksual identitas. Ini adalah awal dari apa yang orang lain sebut sebagai hati nurani, diri ideal, dan personal.
6.Rational coping - Rasional mengatasi dipelajari terutama pada tahun-tahun dari enam hingga dua belas tahun. Si anak mulai mengembangkan kemampuannya untuk menangani masalah-masalah hidup secara rasional dan efektif. Hal ini seperti Teori Psikososial Erikson yaitu "industri."
7.Propriate striving - Propriate berjuang biasanya tidak dimulai hingga setelah dua belas tahun. Ini adalah diri saya sebagai tujuan, ideal, rencana, panggilan, pemanggilan, sebuah arah baru, rasa tujuan. Propriate Puncak dari perjuangan, menurut Allport, adalah kemampuan untuk mengatakan bahwa saya adalah pemilik hidupku - yaitu pemilik dan operator
Sumber Referensi :
Terjemahan google, dalam http://webspace.ship.edu/cgboer/allport.html